Showing posts with label Berita Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Berita Kesehatan. Show all posts

12 February 2009

Bahaya dari obat puyer

3 comments
Sebagian besar dari Anda pasti pernah memberikan racikan obat puyer kepada anak Anda ketika buah hati sedang sakit. Ya, obat yang ditumbuk halus ini nampaknya lebih mudah diminum bagi anak. Tapi tahukah Anda bagaimana proses pembuatan puyer ini. Petugas meletakkan beberapa tablet di sebuah mangkok yang dikenal dengan mortar. Tanpa sarung tangan, biasanya petugas apotek langsung meracik obat. Setelah menjadi halus, racikan obat itu dibagi-bagi ke atas kertas pembungkus tanpa menggunakan alat timbang khusus. Bahkan berdasarkan penelusuran yang dilakukan tim RCTI, ada sebuah apotek yang menghaluskan obat puyer di mortar yang penuh dengan sisa-sisa obat sebelumnya.

Sempatkah Anda berpikir risiko interaksi obat yang digerus dengan obat yang sudah menempel lama di mangkok itu. Bayangkan pula jika ternyata obat yang menempel itu ternyata sangat berbahaya jika tercampur dengan obat yang akan digerus. Sebenarnya, penggerusan obat dengan menggunakan mortar ini memang dinilai sudah sesuai prosedur. Tapi anehnya, proses ini masih dirasa kurang ringkas dan merepotkan. Ada praktek salah satu dokter umum yang meracik obat dengan menggunakan mesin blender. Penelusuran Tim RCTI sempat mengabadikan praktek yang dilakukan dokter umum yang terletak di Setiabudi ini melalui kamera tersembunyi. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan sang dokter ini. Pertama, dokter dilarang meracik obat sendiri karena itu tugas seorang farmasis atau apoteker. Kedua, blender yang digunakan terdapat sisa-sia obat sebelumnya. Tidak ada tanggung jawab moral untuk mencuci bersih blender yang telah digunakan sebelumnya. Memang tidak ada aturan penggunaan blender dilarang atau tidak dalam meracik obat. Tapi sejumlah ahli farmasi mengkhawatirkan stabilitas jenis obat tertentu jika kontak dengan logam mesin blender. Inilah sejumlah sisi negatif dan bahaya puyer:

1. Bentuk pengobatan tidak rasional
2. Tidak sesuai dengan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik)
3. Rentan Polifarmasi
4. Proses peracikan tidak higienis
5. Potensi Human Error sangat besar
6. Stabilitas obat terganggu
7. Sejumlah jenis obat mudah rusak jika digerus
8. Kemungkinan terjadi toksid atau jamur
9. Ketepatan takaran diragukan
10. Sebagian bubuk terbuang
11. Resiko kontaminasi tinggi
sumber : okezone.com

11 January 2009

Air bisa jadi sumber penyakit manusia

1 comments
AIR memang sumber kehidupan yang kaya manfaat. Namun, melalui air pula penularan berbagai penyakit dapat terjadi dan fatalnya bisa mengambil kehidupan manusia. Penyakit yang berkaitan dengan ketersediaan air, telah membunuh lebih dari 5 juta orang per tahun. Bayangkan, jumlah ini besarnya 10 kali lipat dari jumlah orang yang meninggal karena perang. Kenyataan ini makin terlihat pada saat banjir. Tidak heran, dengan kondisi sanitasi yang buruk, otomatis penyakit pun gampang menyerang. "Banjir menyebabkan air kotor merebak ke mana-mana. Kotoran yang terdiri atas bakteri dan kuman ini akan menghinggapi manusia dan menyebabkan berbagai jenis penyakit," kata dr Merrdias Almatsier, mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Beberapa penyakit yang siap mengancam korban banjir adalah diare, tifus, infeksi saluran pernapasan, berbagai penyakit kulit, serta demam. Lihat fakta yang berkaitan dengan diare. Setiap hari, penyakit ini menyebabkan 6.000 kematian. Sebagian besar korbannya adalah anak-anak di bawah lima tahun.

Jumlah ini mencapai puncaknya pada 2001 silam. Sebanyak 1,96 juta orang meninggal karena diare serta 1,3 juta di antaranya merupakan anak berusia lima tahun. Selain diare, penyakit yang juga perlu diwaspadai pada saat banjir adalah perkembangbiakan nyamuk demam berdarah. Seperti diketahui, nyamuk ini sangat suka berkembang biak di air yang menggenang. Air banjir merupakan sarana yang paling mudah untuk penularan berbagai penyakit. Sebut saja infeksi saluran cerna, infeksi mata, pernapasan, kulit, bahkan infeksi otak dapat ditularkan lewat air. Gejala yang terjadi pada penderita infeksi saluran cerna yakni demam, diare, dan muntah. Penyakit ini terjadi akibat mengonsumsi air yang tidak sehat. Maklum, kondisi sanitasi air pada saat banjir, jauh dari higienitas. Sedikitnya sekitar 2,3 miliar orang menderita penyakit terkait dengan konsumsi air yang tidak sehat.

Dalam hal ini anak-anaklah yang paling banyak menanggung risiko karena daya tahan tubuh mereka masih amat lemah. Sekitar 60 persen kematian bayi di seluruh dunia dipicu penyakit infeksi dan parasit yang terjadi akibat mengonsumsi air yang tidak sehat. Untuk mengantisipasi berbagai penyakit di atas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Seperti mengonsumsi air minum dalam kemasan di kala banjir melanda. Cuci tangan ketika hendak makan, gunakan air matang untuk menyiram tangan, dan mengenakan alas kaki ketika berjalan di banjir. Perlu diketahui meski saat ini sedang musim hujan, bukan berarti Jakarta memiliki air yang berlimpah. Daniel Abbas dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta mengatakan, potensi air hujan di Jakarta cukup tinggi, yaitu mencapai 2.000 juta meter kubik per tahun. "Namun yang dapat terserap ke dalam tanah hanya 26,6 persen. Sisanya terbuang sia-sia," ujarnya dalam acara Gerakan Sekali Bilas dari Molto Ultra Bilas di Jakarta, belum lama ini.

sumber : okezone.com

06 January 2009

Sinar Matahari Cegah Rabun Jauh

1 comments

Menyisihkan waktu untuk menikmati sinar matahari di pagi hari ternyata dapat membantu anak-anak terhindar dari rabun jauh atau Miopi. Para peneliti Australia mengungkapkan, menyisihkan waktu sekira dua sampai tiga jam di luar rumah untuk mendapatkan 'guyuran' sinar mentari dapat menghindari anak dari gangguan kesehatan mata. Seperti dilansir Times Of India, Rabu (7/1/2009), rabun jauh atau Miopi telah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian anak-anak di dunia, khususnya di kawasan Asia. Bahkan, hampir 90 persen anak-anak di Singapura mengenakan kacamata baik secara permanen maupun temporari.

"Dibandingkan Australia jumlah tersebut sangat besar, di Australia hanya terdapat sekira 20 persen," ujar peneliti Miopi, Professor Ian Morgan. Menurut Morgan, studi sebelumnya menunjukkan 30 persen anak usia enam hingga tujuh tahun di Singapura sangat rentan dengan gangguan kesehatan mata, sedangkan di Australia gangguan kesehatan mata hanya menghantui sekira 1,3 persen anak usia tersebut. Penyebab terbesar dari kondisi itu adalah anak-anak di Singapura sangat kurang dalam menghabiskan waktu di luar rumah. Kebanyakan dari mereka lebih senang berada di dalam rumah. Rata-rata anak-anak Singapura hanya menghabiskan waktu sekira 30 menit di dalam rumah, sedangkan anak-anak di Australia rata-rata menghabiskan waktu di luar rumah sebanyak dua jam.

Miopi umumnya terjadi pada anak-anak remaja usia 8 sampai 14 tahun, faktor yang menyebabkannya adalah keturunan, membaca sambil tiduran, menonton tv dari jarak dekat, dan tentu saja, berada di depan komputer terus-menerus.

Related Websites

Advertising

Archive

BLOG Stats

Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Followers

 

BLOGGER Pemula. Copyright 2008 All Rights Reserved BLOGGER Pemula